Rabu, 06 April 2011

Seri Psikologi; Gangguan Kejiwaan/Psikopat ( 6 )

Sebelumnya, saya minta maaf kepada Winda Vikriana dan Pak Hazil Aulia karena belum bisa menge-tag seri psikologi ini untuk seri-seri sebelumnya. Karena, ketika saya sunting di note dan saya tambahi tag-nya, tetap saja nama sampeyan tidak masuk suntingan. So, bila ingin membacanya, bisa langsung lihat di note saya di FB ini atau di blog saya; www.erryk-kusbandhono.blogspot.com. Semoga berkenan & bermanfaat…^_^

Di seri-seri sebelum ini (antara seri 2 s/d 5), ada murid saya yang bertanya; “Ustadz, psikopat itu termasuk yang manakah diantara keempat watak dalam ilmu psikologi?”, lalu saya jawab; “Tidak ada. Psikopat itu watak yang mengalami gangguan kejiwaan. Jadi, tidak termasuk keempat maupun gabungan dari watak-watak lainnya.”

Ilmu psikologi mendefinisikan psikopat sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan tidak adanya prinsip moral, emosional dan ketidakmampuan untuk menampilkan perilaku normal. Orang yang memiliki gangguan ini disebut dengan psikopat.

Dan perlu anda ketahui bahwa psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada kisah thriller di film-film seperti; Saw 1 s/d 7, Basic Instinc 1 & 2, Uninvited etc. atau, mungkin kita masih ingat; Mbah Jiwo yang memutilasi cucunya, Sumanto Sang Pemakan Mayat, Si jagal Ryan, Si Babe yg pedofilia dan sederetan orang yang kita ketahui melalui berita yang mengejutkan di layar televisi kita. Nah, itulah beberapa contoh orang-orang yang sakit jiwanya/mengalami gangguan kejiwaan atau psikopat.

Disamping itu, psikopat baik laki-laki maupun perempuan, sedang berencana licik di tempat kerja atau di tempat-tempat yang strategis seperti DPR, Kejaksaan, Kepolisian, Pengadilan di seluruh dunia. Penelitian menyatakan bahwa dua persen populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya. Psikopat seperti itu ada di kantor besar maupun kecil, dia ada di ruang rapat dewan maupun di lantai-lantai toko.

Para psikopat bersembunyi melalui berbohong, mencurangi, mencuri, memanipulasi, mengorbankan, dan menghancurkan rekan kerja serta senang apabila orang lain susah atau celaka. Semuanya dilakukan tanpa rasa bersalah maupun penyesalan. Lebih dalam lagi, ia menilai, mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, karena ambisi untuk dihargai melalui promosi, bonus, dan kenaikan upah serta menjilat atasan.

Psikopat tempat kerja akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaan, status, dan upah yang mereka inginkan. “Mereka berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha sekeras- kerasnya demi mereka sendiri (menghalalkan segala cara). Perbedaan keduanya adalah, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis,”

Berikut ini beberapa ciri yang mungkin dapat menjadi isyarat adanya gangguan kepribadian:
1. Pada awalnya menampilkan sikap yang menarik, memesona, dan menebarkan sikap hangat. Inilah yang membuat orang mudah memercayainya, dan dengan kepercayaan itu mereka mencelakai atau menipu korbannya.

2. Beranggapan dirinya yang paling penting dan harus diistimewakan, semuanya berpusat pada dirinya, pokoknya untuk saya, pokoknya milik saya, pokoknya saya dan saya.

3. Sering memperlihatkan perlakuan yang impulsif (meledak-ledak), sulit menunda dan mengendalikan emosi. Kalau punya keinginan harus sekarang, kalau tidak akan marah atau mengamuk.

4. Hubungan pertemanan atau hubungan sosial yang singkat, sering ganti-ganti pasangan.

5. Sering berbohong, menipu, dan mengkhianati.

6. Senang apabila ‘lawannya’ atau saingannya celaka.

Lima tahap mendiagnosis psikopat
1. Mencocokkan kepribadian pasien dengan 20 kriteria yang ditetapkan Prof. Hare –Prof. Hare adalah Profesor dalam bidang Psikologi asal Kanada-, Pencocokan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang-orang terdekat pasien, pengaduan korban, atau pengamatan perilaku pasien dari waktu ke waktu.

2. Memeriksa kesehatan otak dan tubuh lewat pemindaian menggunakan elektroensefalogram, MRI, dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian gambar hasil PET (positron emission tomography) perbandingan orang normal, pembunuh spontan, dan pembunuh terencana berdarah dingin menunjukkan perbedaan aktivitas otak di bagian prefrontal cortex yang rendah. Bagian otak lobus frontal dipercaya sebagai bagian yang membentuk kepribadian.

3. Wawancara menggunakan metode DSM IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV) yang dianggap berhasil untuk menentukan gangguan kepribadian.

4. Memerhatikan gejala kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 15 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan.

5. Melakukan psikotes. Tapi, psikotes ini belum tentu tepat atau berhasil karena seorang psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi diatas rata-rata, bahkan bisa menipu alat-alat diatas.

Kesimpulannya, ternyata psikopat bisa kita lihat dan amati di sekeliling kita maupun di televisi. Anda mungkin bisa melihat psikopat berdasi yang berada di gedung dewan sana atau di ruang-ruang pengadilan yang memanipulasi dan mencurangi hukum, yang tidak peka terhadap kesengsaraan rakyat bahkan malah membangun gedung baru DPR yang nominalnya 1 trilyun lebih dan korupsi puluhan bahkan ratusan milyar. Mereka juga masuk kategori ini karena menari diatas penderitaan rakyat…

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008