Selasa, 26 April 2011

Cerpen Fiksi Religius I

#Kakakku, Tataplah Hari Esok!..#
By. Anisatul Illiyyin

Saya baru saja direcoki curahan hati seorang kakak. Ya, kakak yang kerap berbagi duka maupun suka, sebagai siklus kehidupan yang penuh misteri, dibalut kekalutan dan ketidakberdayaan. Demikianlah inti dari curahan hati kakak yang mengalir dari mulut yang tampak sekilas didera kekecewaan.

Pasalnya, suatu ketika kakak saya itu mencoba mengutarakan rasa cintanya terhadap seorang wanita yang menurutnya anggun, periang, pandai menjaga diri, tegas, energik, dewasa dan tentu saja komitmen agamanya yang kuat. Pokoknya ia pas (sesuai) di qalbu. Itulah prolog uneg-uneg kakakku yang menjadikan saya di-penasaran-kan. Eh… ternyata, yang menjadi wanita idaman kakakku itu adalah sahabatku sendiri. (he..he..he)

Kakakku bertutur, ketimbang memendam rasa yang menyeret-nyeret ke lautan fitnah yang lebih jauh, fitnah hati yang membelenggu dan terawang lamunan yang mengangkangi hari-harinya, maka dia pun menggoreskan pena di atas kertas, untuk menyampaikan rasa cinta yang tulus ini, yaitu meminangnya sebagai calon isteri tercinta di kemudian hari.

Dan kini, curahan hati kakakku telah dituangkan dalam bentuk tulisan dan telah berada di tangan si empunya, yaitu si gadis idamannya. Kendati demikian, ia pun sodorkan salinan secarik surat itu ke tangan saya, dan kubaca lalu isinya adalah;

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Saudariku Seiman…
Mungkin surat ini mengejutkanmu, atau merisaukanmu, atau bahkan menyulut amarahmu. Tapi memang inilah yang dapat aku perbuat, untuk menelisik ihwalmu, agar aku lenyapkan beban fitnah di raga ini, yang dari hari ke hari kian menggumpal, untuk kemudian menjelma menjadi bola salju yang menggelinding tak terkendali.

Saudariku Seiman…
Inti pesan suratku ini, meski ragu dan segan, adalah sebuah pertanyaan yang ingin saya ajukan, yaitu, apakah Adik dalam proses peminangan? Kalau jawabannya “Ya”, maka semoga memang itu yang terbaik bagi saya dan Adik. Tapi kalau jawabannya “Tidak”, maka pertanyaan yang kemudian menyeruak adalah, sudah siapkah Adik untuk mengayuh bahtera rumah tangga? Kalau jawabannya “Belum”, maka semoga itu pun sebuah penundaan yang terbaik dari Allah. Lalu, jika jawabannya “Sudah”, maka bisakah Adik mendampingi saya untuk bersama-sama berlayar dengan bahtera itu?

Saudariku Seiman…
Memang, rangkaian pertanyaan di atas mungkin agak menohok dan tanpa tedeng aling. Tapi saya kira, terkadang ketegasan akan memupus sebuah fitnah yang mendera. Saya harap Adik memakluminya. Kini saya hanya menanti respon Adik, kendati demikian apapun jawaban Adik, semoga saya dapat menerimanya dengan lapang dada dan penuh keikhlasan.

Saudariku Seiman…
Kalau surat ini dianggap sebuah kelancangan, maka dari lubuk hati yang paling mendalam, mohon pintu maaf Adik bukakan selebar mata memandang. Kalau ini dianggap sebuah aib, maka mohon agar Adik menutupi aib saudaranya. Dengan sangat terbuka, saya sangat menanti jawaban dari Adik. Terakhir, sekali lagi saya mohon maaf, semoga Allah mengampuni kekeliruan saya. Itu saja surat saya.

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

Hmm..., Pikiranku melayang jauh, dan kakakku pun menyergap saya dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana suratnya, sudah dibaca semua?”

“Bagus, sebuah keberanian yang bertanggung jawab, dan penghindar fitnah yang efektif,” komentarku.

Tapi tak lama kemudian, dengan gurat wajah kuyu dan lunglainya, kakakku itu merogoh saku baju kokonya sembari mengeluarkan lembar kertas lainnya yang lebih kecil dan berkata, “Ingin tahu jawabannya, coba baca ini!”, pintanya dengan nada memelas.

Seolah ingin cepat menjawab rasa penasaranku, apalagi dengan mimik wajahnya yang memilukan, maka tanpa basa-basi lagi langsung saja kubaca surat itu. Isinya adalah;

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Saudaraku Seiman…
Terus terang saya sepakat dengan keberanian antum, menurut saya, hal ini adalah sesuatu yang wajar, dan antum telah melakukannya dengan cara yang baik. Bagi ana, hal ini adalah sebuah ikhtiar, jadi sama sekali bukan merupakan sebuah aib. Jadi, tidak ada satu pun yang perlu dipermasalahkan.

Saudaraku Seiman…
Ada beberapa pertimbangan yang datang dari pihak ana, sehingga untuk saat ini ana masih belum bisa menerima lamaran antum. Yang pertama, dari pihak keluarga masih ingin agar ana dapat menyelesaikan kuliah terlebih dahulu sebelum melakukan proses khitbah kemudian menikah. Pertimbangannya, kapan lagi ana bisa mencurahkan kemampuan yang ana miliki untuk mereka kalau bukan saat ini. Yang kedua, dari pihak ana sendiri secara mental/psikologis belum siap untuk kemudian melangkah pada tahap itu, sementara saat ini ana masih dalam tahap belajar.

Saudaraku Seiman…
Yang ana yakini sampai detik ini adalah; bahwa jodoh kita telah dicatat sebelum penciptaan langit dan bumi, jikalau memang antum dan ana adalah sepasang jodoh itu, maka Allah pasti punya cara sendiri untuk mempertemukan kita kelak. Namun, apabila tidak demikian adanya, doa ana adalah bagaimana antum dapat bertemu dengan seorang akhwat lain yang sudah siap lebih dulu daripada ana, yang tentu aja diridhoi oleh Allah baik agama serta akhlaknya.

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.


Kupandangi kakakku. Kucoba membayangkan gejolak hatinya saat ia pertama kali membaca surat balasan si Adik, akhwat idaman hatinya. Saya menduga, pasti ia tengah patah hati, kecewa, kesal, galau, kacau, risau dan membuat suaranya parau.

Tapi tampaknya, kali ini dugaan saya meleset. Ternyata senyum tegarnya menghiasi raut mukanya, seolah mimik kuyu dan lunglainya lenyap ditelan prasangka positif terhadap Rabb-nya. Dan memang seperti itulah seharusnya seorang Muslim berakhlak.

Ia terlihat ridha atas balasan surat itu. Sebab baginya, keridhaan adalah mata air kebahagiaan yang tak pernah kering meski diterpa kemarau. Dan saya berkeyakinan, ia telah tempuh jalan terbaik untuk mengenyahkan beban fitnah itu. Semoga hal yang baik dibalas jua dengan kebaikan. Amin…

Sekali lagi, kutatap kakakku tercinta. Aku berpikir, mungkin Allah SWT sekedar menunda jalinan cinta sucinya, atau ada skenario ilahi lain yang sulit ditebak. Lalu kupesankan kepadanya sebuah pepatah, "Garam di laut, asam di gunung, dalam belanga bertemu jua; kalau memang dia jodoh kakak, tak akan kemana-mana", kataku, sekedar untuk menghibur hatinya yang agak gundah gulana.

Terakhir, saya berdo'a untuknya, agar kakak dan sahabatku itu tetap tegar, tetap optimis dan istiqomah dalam melaksanakan aktivitasnya, karena toh hari esok masih menghampar luas.

Wahai kakakku!.., tataplah hari esok, jangan pernah berputus asa. Semoga Allah memberikan yang terbaik dan semoga Allah menguatkan hati kakak….^_^

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008