Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

Teks Khutbah Idul Adha 1431 H

Khutbah 1
Meneladani Nabi Ibrahim & Ismail
Oleh: Erryk Kusbandhono, M.Pd
(Khutbah ini disampaikan di Masjid Baitul Muttaqin Grati-Pasuruan)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ... اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدِ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ أَيَّامَ اْلأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ سُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ حَبِيْبَنَا وَشَفِيْعَنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ عِيْدِ اْلأَضْحَى. وَأَنَّ الْعِيْدَ فِيْ الإِسْلاَمِ فَرْحَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ فِيْ أَنْحَاءِ الْعَالَمِ.
أَمَّا بَعْدُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَدِيْثِ الشَّرِيْفِ: اِتَّقُوْا اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمِ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَنَحْنُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْن

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mukminin Rahimakumullah…
Ribuan tahun yang lalu, di tanah kering dan tandus, di atas bukit-bukit bebatuan yang ganas, sebuah cita-cita universal ummat manusia dipancangkan. Nabi Ibrahim Alaihissalam, Abu al-Millah, telah memancangkan sebuah cita-cita yang kelak terbukti melahirkan peradaban besar. Cita-cita kesejahteraan lahir dan batin. Suatu kehidupan yang aman, tenteram, dan sentosa dan secara materi subur dan makmur.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (QS, al-Baqarah: 126)

Pada hari ini ratusan juta manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi manusia di hadapan kebesaran Rabb Yang Maha Agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya,

“Labbaika Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika lak.”

Sesungguhnya apa yang dipancangkan oleh Nabi Ibrahim itu adalah sebuah momentum sejarah yang menentukan perjalanan hidup manusia sampai sekarang ini. Ia menghendaki sebuah masyarakat ideal yang bersih; yang merupakan refleksi otentik interaksinya dengan sistem kepercayaan, nilai-nilai luhur, dan tata aturan (syariat) yang telah menjadi dasar kehidupan bersama.

Ibrahim adalah suri tauladan abadi. Ketundukannya kepada sistem kepercayaan, nilai-nilai dan tata aturan ilahiah selalu menjadi contoh yang hidup sepanjang masa. “Ketika Allah berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah (Islamlah),” maka ia tidak pernah menunda-nundanya walau sesaat, tidak pernah terbetik rasa keraguan sedikit pun, apa lagi menyimpang. Ia menerima perintah itu dengan seketika dan dengan penuh ketulusan.

Atas dasar itulah beliau wariskan Islam dan sikap ketundukan kepada-Nya untuk anak cucu sepeninggalnya, untuk generasi berikutnya sampai akhir masa. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 132

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Allahu Akbar 3x Allahu Akbar wa lillahi al-hamd…
Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Qurban yang berasal dari kata “qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi seseorang jauh dari Allah, maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji.

Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah.

Mencapai posisi dekat “Al-Qurban/Al-Qurbah” dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan (baca: mujahadah) dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah SWT. Ia harus menunjukkan ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama.

“Maka tatkala anak itu sudah berumur baligh, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Jama’ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah.
Andaikan Ibrahim manusia yang lemah, tentu akan sulit untuk menentukan pilihan. Salah satu diantara dua yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya; Allah atau Isma’il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang siap memenuhi segala perintah-Nya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Allah dan mengorbankan Isma’il yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi umat nabi Muhammad saw.

Karena itu, dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim, apapun Isma’il kita, apapun yang kita cintai, qurbankanlah manakala Allah menghendaki. Janganlah kecintaan terhadap isma’il-isma’il itu membuat kita lupa kepada Allah. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.

Ma’asyirol muslimin wa zumrotal mukmimin rahimakumullah…
Kita juga sadar bahwa kita berhutang budi dalam memanfaatkan negeri ini kepada orang tua generasi pendahulu, para perintis dan mereka yang telah berjasa untuk itu. Kita juga berhutang budi dalam masalah aqidah dan agama yang kita banggakan ini, kepada generasi salaf saleh yang menanggung bermacam kesulitan dan derita dalam mempertahankan risalah ini pada masa pertamanya, dan yang telah mengorbankan harta dan jiwa mereka menghadapi musuh-musuh Islam untuk menyampaikan agama ini kepada orang-orang setelah mereka, mereka pula yang telah menghilangkan banyak rintangan yang disebarkan oleh para pencela, pengingkar dan pendusta agama ini.

Demikian sungguh pelajaran yang sangat berharga. Kita selaku generasi masa kini telah berhutang budi kepada generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh apa yang kita ni`mati saat ini sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan sikap mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita.

Disini hari raya Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم.
إِنَّا أَعْطَيْنَا كَالْكَوْثَرِ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ.
جَعَلَنَا الله وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ. وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الراَّحِمِيْنَ.


Khutbah 2

َاَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ... اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدِ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ ... اِتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين. اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وصَحْبِهِ وَسَلِّمْ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللهُ أَكْبَرُ ... وَلِلَّهِ الْحَمْدِ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Baca Selengkapnya..

Sabtu, 26 Desember 2009

KHUTBAH IDUL ADHA 1430 H

KHUTBAH IDUL ADHA 1430 H
Oleh: Erryk Kusbandhono, M.Pd
(Khutbah ini disampaikan di Masjid Baitul Muttaqin Grati-Pasuruan)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ للهِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. اَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اَلَّذِىْ هَداَنَا وَأَنْعَمَنَا بِالإِسْلاَمِ وَأَمَرَنَا بِالْجِهَادِ وَنَوَّرَ قُلُوْْبَنَا بِالْكِتَابِ الْمُنِيْرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلَّذِىْ بَلَغَ الرِّسَالَةِ وَأَدَّى اْلأَمَانَةِ وَنَصَحَ اْلأُمَّةِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ هَذاَ النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الله وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَءَامِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Ma’asyiral Muslimin!
Ribuan tahun yang lalu, di tanah kering dan tandus, di atas bukit-bukit bebatuan yang ganas, sebuah cita-cita universal ummat manusia dipancangkan. Nabi Ibrahim Alaihissalam, Abu al-Millah, telah memancangkan sebuah cita-cita yang kelak terbukti melahirkan peradaban besar. Cita-cita kesejahteraan lahir dan batin. Suatu kehidupan yang aman, tenteram, dan sentosa dan secara materi subur dan makmur.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ.
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (QS, al-Baqarah: 126)
Pada hari ini ratusan juta manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi manusia di hadapan kebesaran Rabb Yang Maha Agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya,
“Labbaika Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika lak.”
Sesungguhnya apa yang dipancangkan oleh Nabi Ibrahim itu adalah sebuah momentum sejarah yang menentukan perjalanan hidup manusia sampai sekarang ini. Ia menghendaki sebuah masyarakat ideal yang bersih; yang merupakan refleksi otentik interaksinya dengan sistem kepercayaan, nilai-nilai luhur, dan tata aturan (syariat) yang telah menjadi dasar kehidupan bersama.
Ibrahim adalah suri tauladan abadi. Ketundukannya kepada sistem kepercayaan, nilai-nilai dan tata aturan ilahiah selalu menjadi contoh yang hidup sepanjang masa. “Ketika Allah berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah (Islamlah),” maka ia tidak pernah menunda-nundanya walau sesaat, tidak pernah terbetik rasa keraguan sedikit pun, apa lagi menyimpang. Ia menerima perintah itu dengan seketika dan dengan penuh ketulusan.
Atas dasar itulah beliau wariskan Islam dan sikap ketundukan kepada-Nya untuk anak cucu sepeninggalnya, untuk generasi berikutnya sampai akhir masa. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 132
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". Wahai anak-anakku! Sesungguhnyaa Allah telah memilih agama ini bagimu!”
Allahu Akbar 3x Allahu Akbar wa lillahi al-hamd
Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Qurban yang berasal dari kata “qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi seseorang jauh dari Allah, maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji.

Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah.

Mencapai posisi dekat “Al-Qurban/Al-Qurbah” dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan (baca: mujahadah) dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin rahimakumuLlah.

Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah SWT. Ia harus menunjukkan ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَى قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّيْ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى، قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُأْمَرُ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ الله مِنَ الصَّابِرِيْنَ.
“Maka tatkala anak itu sudah berumur baligh, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Jama’ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah.

Andaikan Ibrahim manusia yang lemah, tentu akan sulit untuk menentukan pilihan. Salah satu diantara dua yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya; Allah atau Isma’il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang siap memenuhi segala perintah-Nya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Allah dan mengorbankan Isma’il yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi umat nabi Muhammad SAW.

Karena itu, dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim, apapun Isma’il kita, apapun yang kita cintai, qurbankanlah manakala Allah menghendaki. Janganlah kecintaan terhadap isma’il-isma’il itu membuat kita lupa kepada Allah. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.

Ma’asyirol muslimin wa zumrotal mukmimin rahimakumullah.

Kita juga sadar bahwa kita berhutang budi dalam memanfaatkan negeri ini kepada orang tua generasi pendahulu, para perintis dan mereka yang telah berjasa untuk itu. Kita juga berhutang budi dalam masalah aqidah dan agama yang kita banggakan ini, kepada generasi salaf saleh yang menanggung bermacam kesulitan dan derita dalam mempertahankan risalah ini pada masa pertamanya, dan yang telah mengorbankan harta dan jiwa mereka menghadapi musuh-musuh Islam untuk menyampaikan agama ini kepada orang-orang setelah mereka, mereka pula yang telah menghilangkan banyak rintangan yang disebarkan oleh para pencela, pengingkar dan pendusta agama ini.

Demikian sungguh pelajaran yang sangat berharga. Kita selaku generasi masa kini telah berhutang budi kepada generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh apa yang kita ni`mati saat ini sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan sikap mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita.

Disini hari raya Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم.
إِنَّا أَعْطَيْنَا كَالْكَوْثَرِ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ.
جَعَلَنَا الله وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ. وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الراَّحِمِيْنَ.

KHUTBAH 2
اَللهُ أَكْبَرُ ... X 7 اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ ... اِتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين. اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وصَحْبِهِ وَسَلِّمْ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللهُ أَكْبَرُ ... وَلِلَّهِ الْحَمْدِ

Baca Selengkapnya..

KHUTBAH IDUL FITRI 1430 H

KHUTBAH IDUL FITRI 1430 H
Oleh: Erryk Kusbandhono, M.Pd
(Khutbah ini disampaikan di Masjid Darul Muttaqin Grati-Pasuruan)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ للهِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. اَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اَلَّذِىْ هَداَنَا وَأَنْعَمَنَا بِالإِسْلاَمِ وَأَمَرَنَا بِالْجِهَادِ وَنَوَّرَ قُلُوْْبَنَا بِالْكِتَابِ الْمُنِيْرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلَّذِىْ بَلَغَ الرِّسَالَةِ وَأَدَّى اْلأَمَانَةِ وَنَصَحَ اْلأُمَّةِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ هَذاَ النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الله وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَءَامِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Pada hari ini, di tempat shalat mereka masing-masing, di masjid-masjid atau lainnya, kaum muslimin seluruh dunia berkumpul melakukan shalat Idul Fitri bersama-sama sesudah semalam suntuk mengagungkan asma Allah dengan membaca takbir, tahmid dan tahlil.

Mereka agungkan nama Allah sesuai dengan perintah dan petunjuk Allah sesudah mereka penuhi hitungan puasa Ramadhan sebulan suntuk sebagaimana difirmankan oleh Allah:

Artinya: “…Dan hendaklah kalian sempurnakan hitungan puasa Ramadhan sebulan suntuk dan hendaklah kalian agungkan nama Allah dengan takbir sesuai apa yang ditunjukkan oleh Allah pada kalian dan agar supaya kalian bersyukur atas segala nikmat-Nya”. (QS. 2:185)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Kita bersyukur ke hadirat Allah, karena telah berhasil memenuhi tugas suci bulan Ramadhan, berpuasa di siang harinya, bershalat tarawih dan witir di malam harinya, mengkhatamkan Al-Qur’an pada siang dan malamnya, mengadakan kuliah-kuliah subuh atau sore hari untuk memperdalam ilmu-ilmu agama yang kita peluk dan kita tekuni, memperbanyak derma dan sadaqah dan akhirnya menunaikan zakat fitrah dan zakat-zakat lainnya.

Alangkah berbahagianya orang-orang yang diterima amalnya selama bulan Ramadhan. Lebih-lebih orang yang telah ditakdirkan oleh Allah memperoleh Lailatul-Qadar sehingga pahala amalnya dilipat gandakan menjadi lebih baik dari amal yang dilakukannya selama seribu bulan atau 83 tahun 4 bulan yang tidak ada Lailatul-Qadarnya. Orang-orang ini termasuk orang yang dirahmati pada awal bulan Ramadhan dan dibebaskan dari neraka pada akhir bulan Ramadhan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:

شَهْرُ رَمَضَانَ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَاطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ اِتْقٌ مِنَ النَّارِ
Artinya:

“Bulan Ramadhan itu, awalnya adalah diturunkannya rahmat Allah, pertengahannya diturunkannya ampunan Allah, dan akhirnya pembebasan dari neraka untuk orang-orang yang diterima amalnya”.

Semoga-lah kita semua serta anak-anak dan keluarga kita termasuk mereka ini. Amin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Bulan Ramadhan itu pada hakekatnya adalah bulan yang merupakan madrasah ruhaniyah. Bulan penataran dan penggemblengan jiwa dan mental seluruh kaum muslimin.

Di siang hari kita menahan lapar dan dahaga menyamai dan sekaligus menghayati rasa lapar yang diderita oleh kaum fuqara’ dan masakin, di samping itu, kita menahan nafsu untuk melakukan amal-amal yang tercela oleh agama seperti: bohong, marah, jengkel, dengki dan meninggalkan semua maksiat yang biasa dilakukan oleh mulut, mata, telinga dan oleh anggota tubuh lainnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Nafsu yang kita miliki itulah, selama ia tidak terkekang dan terlatih untuk memenuhi petunjuk-petunjuk Allah, maka ia adalah menjadi sumber seluruh macam dan bentuk kecelakaan di dunia dan di akherat. Nafsu yang demikian inilah yang sifatnya disebut oleh Al-Qur’an:

Artinya: “…Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh manusia berbuat jahat…”. (QS. 12:53)

Segala bentuk kejahatan di dunia ini dari pencurian yang kecil sampai pencurian dan korupsi kelas kakap yang merugikan negara dan bangsa, timbulnya adalah dari nafsu ammarah.

Segala macam kelakuan porno dan pelacuran komersial hingga perkosaan yang dilakukan bapak kepada anak kandungnya bahkan oleh anak kepada ibu kandungnya sebagaimana yang sering kita baca di surat-surat kabar harian, ini semua adalah bersumber dari nafsu ammarah.

Segala bentuk penganiayaan kecil oleh seseorang kepada lainnya, hingga pembunuhan dan pemotongan mayat-mayat oleh seorang suami kepada isterinya dengan kejam dan lain-lain bentuk pembunuhan yang mengerikan, ini semua adalah bersumber dari nafsu ammarah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Begitulah aslinya watak nafsu, apabila tidak dilatih memenuhi petunjuk Allah. Maka dengan syariat puasa ia dilemahkan oleh lapar dan dahaga secara fisik dan dikekang untuk tidak melakukan amal-amal maksiat. Apabila penataran ruhani ini berhasil, maka ia akan meningkat dari nafsu ammarah, nafsu yang selalu mengajak berbuat jahat menjadi nafsu yang sering menyesali perbuatannya yang buruk itu. Nafsu yang meningkat karena penataran puasa ini, yakni meningkat dari yang buruk menjadi lebih baik adalah disebut an-nafsul lawwamah. Artinya, nafsu yang selalu menyesali kejahatannya. Nafsu ini karena meningkat kebaikannya ia dibuat bersumpah oleh Allah dalam firman-Nya:

Artinya: “Aku (Allah) bersumpah demi nafsu lawwamah”. (QS. 75:2)

Nafsu lawwamah inilah yang membawa orang mau bertaubat, memohon ampun kepada Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!


Apabila nafsu lawwamah ini terus ditatar dan digembleng dengan pelaksanaan syariat puasa secara sempurna, dhahir dan batin ditambah dengan penataran ruhani yang berbentuk shalat wajib setiap hari dan shalat-shalat sunnah, terutama shalat tarawih di malam bulan Ramadhan serta dzikir-dzikir yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, apabila hal ini berhasil, maka nafsu lawwamah ini berubah manjadi an-nafsul muthmainnah. Artinya, nafsu yang tentram. Nafsu Muthmainnah inilah kelak ketika orangnya tiba ajalnya, maka ia dipanggil oleh Allah:

Artinya: “Hai nafsu yang tentram! Pulanglah engkau kepada Tuhan-mu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah engkau ke kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah engkau ke sorga-Ku”. (QS. 89: 27-30)

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Kalau bulan Ramadhan dengan syariat puasa dan tarawihnya yang juga ditunjang dengan amal-amal shalihah lainnya ini merupakan madrasah ruhaniyah untuk seluruh kaum muslimin, madrasah tahunan, maka orang-orang yang lulus dari madrasah ini tentunya selepas Ramadhan tersebut menjadi manusia-manusia fitri, manusia suci yang berjiwa tentram, berjiwa muthmainnah.

Alangkah bahagianya suatu negara yang penduduknya terdiri dari manusia-manusia yang berjiwa muthmainnah ini, sehingga benar-benar negara itu, negara yang adil dan makmur secara hakiki, bukan sekedar diucapkan dan disebut-sebut tanpa kenyataan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Sejak terbenam matahari tadi malam hingga sebelum terbenam matahari hari ini, seluruh kaum muslimin yang kemampuan, diwajibkan zakat fitrah. Sungguh berbahagialah orang yang menunaikan zakat fitrah untuk mensucikan dirinya dan diri keluarga tanggungannya, di samping ia berdzikir, bertahlil, dan bertahmid semalam suntuk serta dilanjutkan dengan shalat Idul Fitri pada pagi ini. Allah berfirman:

Artinya: “Sungguh berbahagialah orang yang berzakat mensucikan dirinya dan menyebut asma ALLAH lantas melakukan shalat hari raya”. (QS. 87: 14-15)

Sasaran zakat, yakni orang-orang yang berhak menerimanya adalah 8 golongan. Akan tetapi, yang terutama adalah fuqara’ dan masakin.

Marilah kita serahkan zakat fitrah kita dengan hati tulus karena Allah kepada mereka yang berhak, baik secara langsung maupun melalui Amil atau panitia zakat fitrah.

Barangsiapa yang diangkat menjadi amil, hendaknya mengerjakan tugasnya secara benar dan karena Allah, sesuai dengan sabda Nabi SAW:

اْلعَامِلُ عَلَى الصَّدَقَةِ بِاْلحَقِّ لِوَجْهِ اللهِ تَعَالَى كَاْلغَازِيْ فِي سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ.

Artinya: “Amil zakat yang bekerja dengan benar karena Allah, adalah bagaikan orang yang berperang fi sabilillah hingga pulang ke keluarganya”. (HR. Abu Dawud, at-Tirmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Khazimah)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ اْلكَسْبِ كَسْبُ اْلعَامِلِ إِذَا نَصَحَ.

Artinya: “Mata pencaharian yang paling baik, adalah mata pencaharian amil zakat, apabila ia bekerja dengan baik menurut agama”. (HR. Ahmad)

Akan tetapi ancamannya pun berat apabila menyeleweng. Rasulullah Allah bersabda:

إِنَّهُ سَتُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مَشَارِقُ اْلأَرْضِ وَمَغَارِبُهَا، وَإِنَّ عُمَّالَهَا ِفي النَّار إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَدَّى اْلأَمَانَةَ.
Artinya: “Sesungguhnya akan dibukakan untuk kalian, kaum muslimin, dunia timur dan barat dan sungguh amil-amil zakatnya tetap di neraka, kecuali yang bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dan menunaikan amanah”. (HR. Ahmad)

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلآمِنِيْنَ اْلفَائِزِيْنَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ اْلقَائِلِيْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى. بَلْ تُؤْثِرُوْنَ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَاْلآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى. إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ اْلأُوْلَى. صُحُفِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآياَتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.

Baca Selengkapnya..

KHUTBAH IDUL FITHRI 1429 H

KHUTBAH IDUL FITHRI 1429 H
Oleh: Erryk Kusbandhono, M.Pd
(Khutbah ini disampaikan di Masjid Baitul Arqom Grati-Pasuruan)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ للهِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. اَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اَلَّذِىْ هَداَنَا وَأَنْعَمَنَا بِالإِسْلاَمِ وَأَمَرَنَا بِالْجِهَادِ وَنَوَّرَ قُلُوْْبَنَا بِالْكِتَابِ الْمُنِيْرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلَّذِىْ بَلَغَ الرِّسَالَةِ وَأَدَّى اْلأَمَانَةِ وَنَصَحَ اْلأُمَّةِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ هَذاَ النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الله وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَءَامِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Hadirin rahimakumullah…

Pada pagi ini, 1 Syawal 1429 Hijriah, alhamd kita masih dapat bersama-sama menyambut Hari Raya Idul Fitri. Artinya, bulan Ramadhan tahun 1429 Hijriah telah pergi meninggalkan kita. Sedihnya hati ditinggalkan oleh bulan yang sangat besar dan maha berkat itu. Bulan mulia, karena kitab Al-Qur’an diturunkan di dalamnya. Bulan yang dikurniakan Lailatul Qadar yang sangat besar nikmatnya. Bulan puasa yang telah menjadi tradisi pada setiap umat dahulu dan kemudiannya. Yakni, bulan yang digandakan pahala bagi setiap amalan kebaikan.

Sesungguhnya bulan Ramadhan itu sangat besar maknanya kepada kehidupan kita kaum Muslimin, karena di dalamnya penuh dengan ilmu, tarbiyah, falsafah dan hikmah. Walaupun ia telah pergi, namun ia meninggalkan kesan yang mendalam kepada kita. Sebab itu Allah jadikan bulan Ramadhan cuma sekali dalam setahun. Cukup membekalkan kepada kita keperluan hidup untuk setahun. Sebagaimana orang yang masuk kursus selama sebulan, maka hasilnya cukup untuk menampung keperluan selama satu tahun. Yakni, bilamana kursus itu dihayati betul-betul.

Bagi orang Mukmin, Ramadhan sangat penting dan di dalamnya mereka dapat mengambil tarbiyah, ilmu, falsafah dan hikmahnya, buat bekal hidup. Marilah kita berdoa supaya Allah panjangkan umur kita hingga bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Allahu Akbar…3X, Walillaahil hamd.

Hadirin rahimakumullah…

Di antara kenangan manis yang ditinggalkan oleh bulan Ramadhan kepada kita ialah bertambahnya ilmu Al-Qur’an kita. Karena sebulan penuh kita membaca dan mengkaji isi-isi Al-Qur’an itu. Begitulah setiap kali Ramadhan datang, kita jadi rajin untuk membaca Al-Qur’an.

Mengkaji ilmu Al-Qur’an adalah bilamana kita benar-benar memahami bacaan-bacaannya. Membaca dengan faham, artinya dapat ilmu. Bila dibaca ulang, artinya menambahkan ilmu. Jadi kalau kita dapat berhadapan dengan Ramadhan, dapat pula membaca Al-Qur’an dengan faham, artinya kita sentiasa dapat menambah ilmu Al-Qur’an. Yakni ilmu yang tersurat dan tersirat. Segala macam ilmu dunia dan Akhirat.

Ilmu-ilmu itu di antaranya ialah ilmu aqidah yaitu keimanan dan keyakinan, ilmu hukum atau syariat, ilmu tasawuf dan akhlak, ilmu sejarah, ilmu psikologi, ilmu masyarakat, ilmu falsafah, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, ilmu sains, ilmu kedokteran, ilmu manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya.

Mana ada satu kitab suci yang dapat menggabungkan segala bentuk ilmu seperti Al-Qur’an melakukannya. Mana ada mahaguru yang dapat menggabungkan segala macam ilmu dalam satu kitab suci seperti yang Allah lakukan? Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab dari segala kitab bagi kaum Muslimin. Diturunkan oleh Mahaguru Yang Maha Besar melalui Rasul-Nya Muhammad saw. Sebab itu, bila Al-Qur’an diamalkan dalam kehidupan riil kita, maka Al-Qur’an menjamin keselamatan kita, baik keselamatan di dunia maupun di akhirat. Sedangkan ideologi-ideologi selain Al-Qur’an yang kelihatannya begitu bagus dan logis, terbukti bila diamalkan timbul berbagai macam masalah yang tidak dapat diselesaikan.

Sungguh ilmu Al-Qur’an itu benar dan dapat membawa keselamatan kepada umat manusia. Bukan saja orang Islam yang diselamatkan, bahkan orang bukan Islam pun kalau menerima dan mengamalkan Al-Qur’an akan selamat di dunia. Namun karena mereka tidak beriman, tetaplah tidak selamat di akhirat kelak.

Hadirin rahimakumullah…

Demikianlah seharusnya yang terjadi kepada umat Islam di setiap Ramadhan setiap tahun. Yaitu bertambahnya ilmu Al-Qur’an dan meningkatnya kehidupan umat Islam dalam masyarakat kita. Namun kita sedih, karena apa yang sebenarnya terjadi bukanlah begitu. Bacaan Al-Qur’an kita di bulan Ramadhan tidak pun menambah ilmu dalam diri kita dan juga tidak pun meningkatkan perlaksanaan hukum Islam kita di dalam kehidupan keseharian.

Buktinya, seperti yang dapat kita saksikan dengan jelas, yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita ialah krisis akhlak & moral setiap hari semakin terkikis terutama di kalangan orang-orang politik, pembunuhan dengan adis masih merajalela, ekonomi kita belum bersih dari riba, penindasan terhadap rakyat kecil masih sering kita dengar & kita lihat di media massa. Pendidikan belum dapat melahirkan manusia yang beradab dan membangun.

Ukhuwah Islamiyah dalam satu negara atau antar negara belum begitu baik. Peperangan sesama umat Islam masih terjadi. Fitnah, mencaci-maki orang lain masih jadi budaya. Hidup nafsi-nafsi, hidup kasta-kasta dan kelompok-kelompok masih merebak. Tegasnya, kejujuran dan keadilan secara menyeluruh belum terjadi dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, Allah menimpakan bermacam-macam bala bencana dalam masyarakat. Bencana satu belum selesai, bencana yang lain datang lagi. Lihatlah firman Allah:

“Berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam Keadaan zalim, Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

Keadaan umat Islam hari ini tiada jauh bedanya dengan orang bukan Islam. Bahkan dari segi kehidupan dunia, nyata sekali orang-orang bukan Islam diatas umat Islam. Sedangkan Allah berjanji bumi ini hendak diserahkan pada hamba-hamba-Nya yang sholih. FirmanNya:

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zaabur, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang soleh.”(Al Anbiya: 105)

Tetapi mengapa janji Allah itu belum terjadi? Jawabnya ialah karena kita umat Islam tidak mengikuti petunjuk Al-Qur’an. Kita ambil kulit lahir dari Al-Qur’an tetapi tidak mengambil isinya. Kita baca dan kita hafalkan ayat-ayat Al-Qur’an tetapi kita tidak mengamalkannya. Sebab itu kita tidak menjadi pribadi Al-Qur’an. Akal, jiwa dan jasad kita tidak terbentuk oleh Al-Qur’an. Tetapi lebih dipengaruhi oleh sekulerisme. Sebab itu cara hidup kita lebih bersifat sekuler daripada bersifat Islam atau Qur’ani.

Sistem tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia memerlukan proses awal pembinaannya oleh orang-orang yang mau melakukannya. Sistem Al-Qur’an hanya terjadi dalam realita bilamana lahir ke dunia ini manusia–manusia Al-Qur’an bergerak. Yakni Nabi Muhammad saw bersama sahabat-sahabat baginda. Selagi Al-Qur’an tidak difahami bacaannya, juga tidak diamalkan dalam kehidupan, maka selama itulah kita akan hidup dalam suasana krisis, huru-hara, gelisah, maksiat dan mungkar. Dan juga berada dalam kemurkaan Allah SWT. Ingatlah firman Allah dalam surah Al Haj ayat 41:

“(Yaitu) Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
Allahu Akbar…3X, Walillaahil hamd.

Hadirin rahimakumullah…

Pada Hari Raya ini, di samping kita menziarahi sanak saudara dan handai tolan, kita juga harus muhasabah diri. Karena diantara cara-cara mengisi Hari Raya ialah mengenang dan menilai kembali hasil yang kita peroleh dari bulan Ramadhan. Apakah kita mendapat apa yang sepatutnya kita dapat atau sebaliknya. Dari sana kita bisa tahu apakah kita layak bergembira di Hari Raya ini.

Tadi saya telah katakan bahwa sepatutnya di bulan Ramadhan, ilmu kita akan bertambah. Yakni ilmu Al-Qur’an yang kita baca. Yang mana dengan ilmu yang makin bertambah dan makin matang, perlaksanaannya pun makin halus, maka sepatutnya kita mendapat berkat yang banyak di bulan yang dikatakan bulan berkat itu.

Tetapi sedih sekali, karena apa yang sepatutnya terjadi, tidak terjadi. Kita tidak mendapat hasil yang patut didapat selama berpuasa Ramadhan.

Mengapa terjadi demikian? Mengapa ilmu tidak bertambah walaupun membaca Al-Qur’an? Mengapa pelaksanaan Islam tidak meningkat sedangkan sudah berkali-kali kita dilatih oleh Ramadhan? Mengapa akhlak umat Islam tidak berubah-ubah dari jahat kepada baik? Mengapa ukhuwah Islamiyah tidak terjalin? Bahkan krisis ekonomi makin menjadi-jadi. Mengapa kemungkaran masih merajalela, mencengkam dan mencekik kehidupan kita? Ya., mengapa dan mengapa segala persoalan negatif ini masih belum dapat diatasi? Sedangkan peranan Ramadhan ialah untuk mendidik manusia menyelesaikan semua masalah ini?

Hadirin rahimakumullah…

Tentu ada yang tidak beres dengan bacaan Al-Qur’an kita, dengan puasa dan mujahadah kita. Yakni dalam berhadapan dengan Ramadhan yang lalu. Mari kita mencari sebabnya. Supaya bila kita berhadapan dengan Ramadhan yang akan datang, yakni kalau Allah panjangkan umur kita setahun lagi, kita akan menghadapi dan menghayatinya dengan betul. Kita dapat memenuhi syarat-syaratnya dengan sempurna. Supaya bila kita nanti berhadapan dengan Ramadhan yang akan datang, kita akan menghadapi dan menghayatinya dengan betul. Kita dapat memenuhi syarat-syaratnya dengan sempurna. Supaya kita dapat menikmati ruh Ramadhan, bukan sekedar kulit lahirnya saja.

Jadi sekarang saya akan cuba menyampaikan sebab-sebab mengapa kita tidak mendapatkan hasil yang sepatutnya dari didikan Ramadhan:

1. Umat Islam banyak yang tidak membaca Al-Qur’an walaupun di bulan Ramadhan. Banyak pula yang membacanya tetapi oleh karena ianya dalam bahasa Arab, maka tidaklah difahami artinya. Sedikit sekali umat Islam yang berusaha membaca terjemahan Al-Qur’an dan tafsirannya. Sebab itu, banyak sekali umat Islam yang tidak ada pada mereka ilmu Al-Qur’an. Kalau ada, tidak pula bertambah-tambah ilmunya. Bila ilmu tidak ada, dengan apa umat Islam hendak tegakkan Islam? Sebagaimana orang yang hendak berperang tetapi tidak membawa senjata, bagaimana bisa menang?

2. Dalam hal puasa, umumnya umat Islam hanya tidak makan dan tidak minum. Yakni puasa lahir saja. Sedangkan batinnya tidak berpuasa. Akalnya tidak pun dijaga dari berfikiran jahat, hati atau ruhnya dibiarkan kotor dengan sifat-sifat yang tercela. Matanya dibiarkan liar, lidahnya ghibah, telinga dibuka lebar untuk mendengarkan hal-hal yang berbau maksiat. Sedangkan puasa batin ini sama pentingnya dengan puasa lahir. Maka kalau tidak dilakukan, artinya manusia itu tidak berpuasa dan tidaklah ada hasilnya. Maksiat pun terus menjadi-jadi. Rasulullah SAW bersabda:

“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.” (Riwayat An Nasa’i dan Ibnu Majah)

3. Sholat sunnah tarawih, banyak yang melakukannya tetapi tidak dengan khusyuk dan tawadhuk. Maka jadilah ibadah itu seperti pohon yang tidak berbuah. Artinya bertambah sholatnya tetapi tidak bertambah rasa kehambaan kepada Allah. Maka akhlak tidak berbuah.

Inilah dia tiga perkara penting yang perlu dilakukan di bulan Ramadhan, supaya ibadah kita benar-benar berkesan. Yakni, mencapai tujuan Ramadhan yang sebenar. Apakah tujuan yang dimaksudkan?

“Wahai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang sebelum kamu, agar kamu sekalian menjadi orang yang bertaqwa”(Al Baqarah: 183)

Allahu Akbar…3X, Walillaahil hamd.

Hadirin rahimakumullah…

Taqwa adalah sumber bagi segala kekayaan. Kekayaan dan keselamatan dunia dan Akhirat. Memiliki taqwa artinya memiliki segala-galanya. Yakni segala kesenangan lahiriah dan batiniah. Orang bertaqwa, dengan kekayaan yang dipunyai, dia tidak bakhil. Orang bertqwa, dengan ilmu yang tinggi, dia tidak berlagak dan takabur. Orang bertaqwa, kalau miskin akan redha dan tidak hasad dengki. Demikian seterusnya.

Alangkah hebat dan bijaknya orang-orang yang memburu taqwa dalam hidup mereka. Karena taqwa mengatasi nilai pangkat, gaji besar, banyak harta dan lain-lain lagi. Taqwa adalah satu derajat tertinggi di sisi allah, yang kalau manusia memperolehinya, jadilah ia semulia dan seagung-agung manusia. Allah berfirman:

Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa. (Al Hujurat: 13)

Hadirin rahimakumullah…

Sifat kehidupan orang bertaqwa berbeda sekali dengan cara hidup mereka yang tidak bertaqwa. Bedanya bagaikan langit dengan bumi. Dengan adanya taqwa dalam diri pemimpin dan masyarkat, maka Allah akan datangkan pertolongan yang luar biasa. Hingga jadilah negara itu seperti yang Allah firmankan:

Negara yang aman makmur dan mendapat keampunan Allah.

Oleh karena itu dalam rangka kita ber-idul fitri ini, marilah kita berusaha semaksimal mungkin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah yakni dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan berusaha menjauhi larangan-larangan-Nya serta senantiasa bermuamalah dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya.

Mudah-mudahan Allah SWT berkenan memberikan kita umur panjang, rajin beribadah, rezeki yang penuh berkah, ilmu yang bermanfaat dan semangat dalam ber-amaliyah akhirat.

Amiin, yaa robbal ‘aalamiin…

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ اْلأَمِنِيْنَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ الْمُتَّقِيْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا. وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.


KHUTBAH 2
اَللهُ أَكْبَرُ ... X 7 اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ ... اِتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين. اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وصَحْبِهِ وَسَلِّمْ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللهُ أَكْبَرُ ... X 3 وَلِلَّهِ الْحَمْدِ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Baca Selengkapnya..
Template by - Abdul Munir - 2008