Kamis, 23 September 2010

Nilai Sebuah Kejujuran

By. Anisatul Illiyin


Kututup pembicaraanku dengan seorang teman malam itu dengan perasaan tidak karuan. Berulang kali kata sabar kuucapkan untuk membesarkan hatinya. Niat awalku ingin meminta kehadirannya dalam suatu acara, berbuntut panjang menjadi diskusi mengenai permasalahan rumah tangga.

Setiap rumah tangga pasti akan menghadapi cobaan. Ada yang berat, ada yang ringan, ada yang sedang-sedang saja. Seperti janji Allah bahwa ujian itu tidak akan ditimpakan di luar kesanggupan hamba-Nya untuk menanggung, dan kesanggupan orang memang berbeda-beda, kan?

“Bayangin, Nis.. Sepuluh tahun dia bohong. Sepuluh tahun usia pernikahan kami, kenapa justru sekarang...?” Sebenarnya agak sulit bagiku untuk mempercayai cerita temanku itu. Selama ini yang kutahu, keluarga mereka sangat harmonis. Tapi, ternyata di baliknya tersimpan sebuah bom waktu. Dan mungkin, ini adalah waktu yang tepat untuk meledakkan bom tersebut.

Kejujuran itu pahit, benarkah? Jika kita memutuskan untuk melakukan suatu kedustaan, maka kita akan melakukan ribuan kedustaan lain untuk menutupinya. Hingga suatu saat, ada kondisi di mana mau tidak mau kejujuran itu harus kita katakan, maka benarlah bahwa ia akan terasa sangat pahit. Bahkan tidak jarang, ada hal yang harus kita ikhlaskan untuk lepas dari genggaman.

Aku jadi teringat sebuah film yang berjudul “Liar-Liar” ketika suamiku meminjam di rental Atlantic Malang. Film ini berkisah tentang seorang anak yang selalu merasa dibohongi oleh ayahnya, lalu dihari ulang tahunnya dia memohon agar satu hari, hanya satu hari, ayahnya tidak dapat berkata bohong. Awalnya, semua menjadi berantakan; keluarga, pekerjaan, interaksi dengan orang-orang tercintanya, janji-janji yang dibuat. Lalu, satu demi satu keadaan mulai membaik hingga akhirnya, semua terselesaikan tanpa satupun kebohongan. Walaupun film itu adalah rekaan semata, tapi ada pesan moral yang ingin disampaikan. Bahwa kejujuran itu tidak akan pernah membawa dampak buruk bagi kita. Jadi, kenapa kita harus takut untuk jujur?

Sebagian orang menganggap bahwa mereka akan selamat dengan sebuah dusta. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, mereka menunda bencana yang kecil, dan datang menyambut bencana yang lebih besar lagi. Ketika kita jujur saat ini, memang pasti akan menemukan suatu konsekuensi yang ada kalanya tidak enak. Tapi, konsekuensi itu akan selesai dalam sekejap, dan hari esok akan kita jelang dengan penuh ketenangan. Timbanglah hal ini dengan agama. Ketika kita berusaha untuk senantiasa jujur di dunia, maka kita tidak akan menghadapi hari penghisaban dengan kekhawatiran atas terbongkarnya kedustaan kita. Padahal Raqib dan Atid, tidak pernah luput mencatat satu per sekian detikpun yang kita lewati di dunia ini.

“Tapi Nis, sejak dia terus terang kepadaku tentang kebohongannya selama ini. Aku jadi tenang. Sekarang aku enggak terlalu ambil pusing apa yang dia kerjakan saat tidak di rumah. Toh, dia sendiri yang sudah berjanji akan tobat nasuha. Sekarang tinggal urusannya sama Allah...” kuingat lagi sepenggal ucapan temanku itu.

Padahal, dari apa yang aku dengar, ujian yang dia hadapi ini bukan sesuatu yang mudah. Mudahkah untuk menerima kenyataan bahwa kita telah diduakan tanpa sepengetahuan kita? Mudahkah untuk menerima kenyataan bahwa kesetiaan kita selama ini hanya dianggap sebelah mata? Tentu tidak mudah, bukan?

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008