Kamis, 02 Desember 2010

Belajar Ikhlas Dari Kelapa Tua II

Apakah nasib kelapa tua sampai di sini saja? Apakah dia 'mati' dalam gulai kambing dan habis ceritanya? Tentu saja tidak! Makhluk seikhlas itu mana mungkin hilang begitu saja. Ia terus berperanan menginsafkan manusia.

Gulai pun dimakan dengan lahapnya oleh manusia dari berbagai golongan. Si miskin makan gulai daun ubi. Orang pertengahan makan gulai ikan kecil. Orang kaya makan gulai kambing atau ikan bawal. Apapun isinya, santanlah bahan utamanya.

Apa yang terjadi pada kelapa tua itu selanjutnya? Kelapa tua yang sudah bernama gulai kini sudah berpindah ke dalam perut manusia. Bersama dengan nasi, air, ikan, buah dan berbagai makanan lagi, si kelapa tua digiling di dalam perut manusia. Ditambah dengan enzim, asid dan entah apalagi zat yang perlu untuk penghadaman maka kelapa tua itu menjadi lemak yang mengalir bersama aliran darah manusia.

Lemak??? Ya ...lemak, satu zat yang diperlukan sebagai simpanan tenaga. Tapi banyak orang yang takut mendengar namanya. Kenapa? Lemak ...kolesterol ...sakit jantung ....darah tinggi .....strok ....lumpuh .....mati. Rangkaian peristiwa yang sering kita dengar dan lihat di sekitar kita.

Aduh ....kelapa tua yang ikhlas itu rupanya bisa bikin orang mati? Kelapa tua yang ikhlas itu bisa membunuh? Sadis betul si kelapa tua!

Wahai kelapa tua, mana keikhlasanmu? Sanggup kau bunuh manusia?
Kau sumbat saluran darah arteri ke jantung. Kau sumbat saluran darah ke otak. Kau melekat tebal di dinding saluran darah leher. Kau menyumbat dimana-mana. Lalu, darah mampat, beku, manusia rebah, pingsan, lupa, lumpuh bahkan ada yang terus mati!

Oh rupanya kelapa tua telah menjadi pembunuh yang ganas dalam senyap.
Lalu, ditulislah di buku, di koran, di majalah, disiarkan di tv, radio dan semua jenis media: KOLESTEROL penyebab sakit jantung yang membunuh.
Kelapa tua yang kini bernama kolesterol itu menjadi begitu popular, terutama di kalangan orang-orang kaya. Mereka sangat takut dengan kolesterol.
Wah ...kelapa tua telah menjadi pembunuh yang paling menakutkan.

Ya Allah,
Tidak adakah pembelaan kepada makhluk-Mu yang ikhlas ini?
Betulkah kelapa tua yang ikhlas itu pembunuh?
Apakah tuduhan itu benar ataukah hanya fitnah manusia?
Siapakah yang bersalah, manusia atau kelapa tua?

Allah Maha Adil, Maha Hakim, Maha Mengetahui. Maka Allah tunjukkan berbagai golongan manusia yang memakan hasil kelapa tua dan bagaimana kesannya.
1. Kanak-kanak yang belum baligh. Mereka makan biskut kelapa, gulai, kue dan berbagai makanan yang mengandung kelapa. Hasilnya, mereka sehat-sehat saja, malah tangkas dan aktif hidupnya.
2. Pemuda-pemudi yang giat belajar, ber-olah raga dan bekerja. Mereka makan lebih banyak lagi makanan berlemak kelapa. Hasilnya, mereka makin aktif dan rajin.
3. Anak-anak orang kaya yang mewah dan pemalas. Mereka makan berbagai jenis makanan hingga berlebihan. Hasilnya, obesitas, kegemukan!
4. Orang-orang miskin. Sesekali mereka makan lemak kelapa. Tak ada masalah.
5. Orang-orang tua yang kaya. Mereka sangat menjaga makanannya. Ternyata mereka kena juga sakit jantung, strok dan sejenisnya.
6. Dan berbagai golongan manusia yang memakan lemak kelapa tua umumnya sama juga, mereka menjadi gemuk, tidak sehat, bahkan mati karena lemak kelapa tua.
7. Namun dari semua golongan itu ada sebagian yang sangat langka. Apapun yang mereka makan, sedikit pun tidak mempengaruhi kesehatannya. Mereka makan lemak kelapa tua kah, lemak kambing kah, lemak apapun tidak memudharatkannya. Siapakah mereka? Itulah dia orang-orang soleh dan orang bertaqwa.

Oh, rupanya kelapa tua memilih-milih korbannya. Pembunuh yang selektif.
Anak-anak kecil, pemuda-pemudi yang aktif belajar, ber-olahraga dan bekerja, orang-orang soleh dan bertaqwa tidak dibunuhnya. Selain itu semua dibunuh oleh bahaya kolesterol kelapa tua.

Mengapa begini? Tentu ada rahasia di sebalik pembunuhan selektif ini. Kelapa tua tentu ada alasan kenapa dia berbuat begini. Mari kita tanya si kelapa tua. Ups... kelapa tua kan tidak bisa bicara? Jadi, bagaimana?

Untunglah ada manusia yang Allah beri faham rahasia kelapa tua. Mereka adalah orang-orang bertaqwa yang Allah bukakan rahasia ini kepada mereka.

Inilah penjelasan mereka. Kelapa tua seperti juga makanan-makanan lain adalah makhluk Tuhan yang ikhlas dan taat. Kelapa tua senantiasa berdzikir kepada Allah, patuh dan taat. Dan kita pun sudah mengetahui bagaimana keikhlasannya yang sangat tinggi. Ketika ia menjadi santan dan dicampur dengan bahan makanan lain, kelapa tua merasa gembira karena bergaul dengan makanan-makanan lain yang juga berdzikir bersamanya. Bergabunglah mereka menjadi gulai yang amat sedap rasanya.

Ketika ia menjadi kolesterol, ia tetap juga berdzikir. Ia masuk ke lorong-lorong pembuluh darah, bertemu dengan tulang, daging dan berbagai organ dalam badan manusia. Nah ...di sinilah bermula penderitaan si kolesterol yang selalu berdzikir itu.

1. Ketika ia masuk ke dalam badan anak-anak yang belum baligh, ia sungguh gembira. Badan itu bersih, suci tanpa dosa. Berdzikirlah si kolesterol bersama badan yang suci itu, lalu memberi khasiat dan kesan yang sehat kepada badan si anak.

2. Ketika ia masuk ke dalam badan pemuda-pemudi yang bertungkus-lumus belajar, berolah raga dan bekerja, kolesterol cepat diproses menjadi tenaga, tidak sempatlah ia berlama-lama di dalam badan itu.

3. Ketika ia masuk ke dalam badan orang-orang soleh dan bertaqwa, sungguh bahagia. Inilah tempat yang paling indah untuknya. Dzikir badan orang-orang soleh dan bertaqwa itu sungguh seirama dengan dzikirnya. Kolesterol begitu serasi dengan badan orang-orang itu, sebab itulah kehadiran kolesterol sama sekali tidak memudharatkan mereka.

4. Namun yang menyiksa kolesterol adalah badan orang-orang yang lalai dengan Tuhan. Badan yang tidak berdzikir amat menyusahkan kolesterol. Ia seolah-olah dimasukkan ke dalam sarang penjahat Kolesterol meronta dan meronta. Berlakulah pergelutan dahsyat antara kolesterol yang berdzikir itu dengan badan yang yang tidak berdzikir. Sama sekali tidak berlaku kerjasama. Bukan saja tidak serasi malah peperangan terjadi dangan seru. Terjadilah kerusakan di pembuluh darah, jantung, hati, otak dan berbagai organ akibat peperangan itu.

Kasihan si kelapa tua, ia terpaksa berperang di sarang orang-orang yang lalai dengan Tuhan. Si kelapa tua berdzikir sendirian. Dan ia tiada pilihan melainkan melawan dan melawan agar terbebas dari penjara kelalaian itu.

Akhirnya, si kelapa tua itupun mati bersama matinya badan yang lalai dengan Tuhan.

Kisah ini diambil dari Mutiara Minda Abuya Ashaari Muhammad At-Tamimi

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008